Tujuan Hidup Manusia Sebagai Tujuan
Akhir Pendidikan
Makalah
ini di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah
“ FILSAFAT PENDIDIKAN’’
Di susun Oleh:
Karina (210312152)
Ansori (210312153)
Mey
Ridayanti (210313154)
Dosen
Pengampu :
Kadi, M. Pd. I
JURUSAN
TARBIYAH
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(
STAIN ) PONOROGO
MARET
2014
PEMBAHASAN
A. Manusia dan Tujuan Hidupnya
Manusia merupakan salah satu makhluk hidup yang menjadi anggota populasi di
permukaan bumi. Ia adalah suatu himpunan yang memiliki ciri khas yang tidak
dimiliki oleh sekian juta makhluk hidup lainnya. Manusia, selama hidupnya
selalu berusaha dan berjuang untuk memanfaatkan alam sekitarnya dengan cara
menggunakan daya dan tenaga alam untuk kepentingan dirinya.
Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya terletak pada
sifat-sifat kehidupan rohaninya, yaitu bahwa manusia memiliki potensi akal
budi. Dengan potensi ini manusia dapat berfikir dan berbuat melebihi kemampuan
hewan. Manusia dapat memahami hal-hal abstrak, dan mengabstraksikan hal-hal
konkrit. Dengan akal budi, manusia mempunyai cita-cita dan tujuan hidup. Karena
akal, manusia melahirkan kebudayaan, mengubah benda-benda alam menjadi benda
budaya sesuai dengan kehendak dan kebutuhan hidupnya. Karena akal, manusia
menjadi bermoral dan menciptakan norma-norma hidup bermasyarakat. Oleh karena
memiliki akal budi itulah, manusia menjadi makhluk bijaksana yang mencari
tujuan-tujuan (homo sapiens), makhluk yang pandai bekerja, menggunakan
alat (selalu mencari konkretasi) atau (homo faber), dan makhluk yang
menyukai proses tanpa tujuan (homo ludens), manusia mempnyai akal budi
maka manusia menjadi homo politikus yang akan mencari kabebasan dirinya
sendiri maupun masyarakat dan cara menerobos batas-batasnya. Selain itu,
menjadi homo religius yang akan percaya kepada penentuan atau takdir.
Kehidupan manusia selalu berubah tergantung pada pengharapan, cita-cita
hidup atau pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan hidup dalam masyarakat. Di sini,
pendidikan memberikan makna yang luas dan dalam bagi perubahan hidup manusia
secara individu dan sosial.[1]
Dari pengertian di atas dapat kita ketahui bahwa tujuan hidup manusia adalah
mencapai kebahagiaan yang diinginkannya. Dengan dibekali akal pikiran/rasio
itulah maka manusia diharapkan dapat berfikir secara maksimal dalam mencapai
tujuan hidupnya tersebut.
B. Tujuan Hidup Manusia sebagai Tujuan Akhir
Pendidikan
Pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Pendidikan
Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhir yang terdapat pada waktu
hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum pendidikan yang berbentuk Insan
kamil dengan pola taqwa dapat mengalami perubahan naik-turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan
hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya.
Karena itulah pendidikan Islam mengembangkan, memelihara, dan mempertahankan
tujuan pendidikan yang telah dicapai. Tujuan pendidikan terdapat dalam firman
Allah:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? wur ¨ûèòqèÿsC wÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡B ÇÊÉËÈ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah
dengan sebenar-benar takwa; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan
muslim.” (QS. Ali Imran:102).
Mati sebagai muslim dalam kedaan berserah diri kepada Allah, yang merupakan
ujung dari takwa sebagai akhir dari proses hidup, jelas berisikan kegiatan
pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap pula
sebagai tujuan akhir dari pendidikan tersebut. Insan kamil yang mati dan
menghadap Allah, merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan Islam.[2]
Menurut Stanley Hall, John Dewey, dkk, bahwa tujuan pendidikan
adalah menolong supaya manusia bisa sampai kepada kesempurnaan dan kekayaan
dalam kahidupan dan mengetahui bagaimana menghadapi urusan-urusan yang ada
dalam kehidupan itu. Sesungguhnya
pendidikan itu membahas tentang pikiran, perasaan dan perbuatannya pada
tiap-tiap saat dalam kehidupannya.[3]
Tujuan akhir pendidikan Islam yang lain yaitu terwujudnya kepribadian
muslim. Kepribadian muslim di sini adalah kepribadian yang seluruh
aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam.
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba aspek-aspek kepribadian itu dapat
digolongkan ke dalam 3 hal, yaitu:
1. Aspek-aspek Kejasmaniahan, meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak
dan ketahuan dari luar.
2. Aspek-aspek Kejiwaan, meliputi aspek-aspek yang tidak segera dapat
dilihat dan ketahanan dari luar.
3. Aspek-aspek Kerohanian, meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih
abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan.[4]
Ringkasnya yang dimaksud kepribadian muslim ialah kepribadian yang
seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwa,
maupun filsafat hidup dan kepercayaan menunjukkan pengabdian kepada Tuhan,
penyerahan diri kepada-Nya.[5]
Maka dengan menguasai aspek-aspek tersebut, manusia akan dapat mencapai tujuan
hidupnya sekaligus tujuan pendidikan dalam kehidupannya.
Drs. Muhammad Zen mengatakan dalam bukunya Materi filsafat Pendidikan
Islam: kepribadian muslim ini akhirnya tidak akan terlepas dari tiga
pilihan yaitu: iman, islam dan ihsan.
Kadang-kadang kepribadian Muslim itu juga disebut dengan istilah “takwa”
yang diartikan sebagai mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-Nya.
Menurut Imam Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan insan
purnama, baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Imam Ghazali manusia dapat
mencapai kesempurnaan apabila mau berusaha mencari ilmu dan selanjutnya
mengamalkan fadilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadilah ini
selanjutnya dapat membawa untuk dekat kepada Allah dan akhirnya
membahagiakannya hidup di dunia dan akhirat.[6]
Dengan mengacu kepada prinsip-prinsip tujuan hidup manusia tersebut, dapat dirumuskan tujuan pendidikan dalam konteks tujuan hidup manusia,
yaitu sebagai berikut:
1. Pendidikan Islam adalah usaha sadar manusia membimbing dan
mengembangkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya berdasarkan ajaran Islam.
Tujuan hidup manusia berdasarkan ajaran Islam adalah memperoleh ridlo Allah
swt. Karena itu, maka tujuan pendidikan adalah memperoleh ridlo Allah swt.
2. Ridlo Allah hanya bisa dicapai melalui pola hidup beribadah kepada Allah,
yaitu sikap penghambaan dan ketundukkan kepada sistem Allah. Agar manusia
memiliki pola hidup ibadah, diperlukan bimbingan dan pembiasaan. Oleh karena
itu, maka proses pendidikan harus ditujukan agar manusia memiliki kesadaran dan
kemampuan menjalankan ibadah kepada Allah, baik ibadah ritual maupun ibadah
sosial dalam kerangka menjalankan fungsi kholifah
fil ard.
3. Aktivitas duniawi yang didasarkan penghambaan
dan ketundukkan (ibadah) kepada Allah akan melahirkan prilaku bermoral (akhlaq
al karimah). Pembentukan
prilaku bermoral memerlukan bimbingan, pembiasaan dan latihan. Oleh karena itu,
proses pendidikan harus ditujukan untuk membentuk manusia yang berakhlaq mulia.
4. Prilaku bermoral (akhlaq mulia) akan mendatangkan kebahagiaan bagi
manusia dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Implikasinya adalah bahwa semua
perancangan pendidikan harus diarahkan untuk membantu dan membimbing manusia
mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat melalui pola hidup bermoral atas
dasar ibadah kepada Allah.[7]
Di sinilah terjadi hubungan antara tujuan
hidup manusia dengan tujuan pendidikan. Dalam pendidikan, jika seseorang telah
menguasai ilmu atau hal yang ingin diketahuinya, maka ia telah mencapai tujuan
pendidikannya tersebut. Begitu pula dengan kehidupan. Dalam kehidupan,
kebanyakan manusia ingin memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di
akhirat. Dengan proses pendidikan yang dijalaninya dengan sungguh-sungguh, maka
manusia akan dapat mencapai tujuan hidupnya tersebut. Inilah yang disebut
tujuan hidup manusia sebagai tujuan akhir pendidikan.
KESIMPULAN
Manusia merupakan salah satu makhluk
hidup yang menjadi anggota populasi di permukaan bumi. Ia adalah suatu himpunan
yang memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh sekian juta makhluk hidup
lainnya. Manusia, selama hidupnya selalu berusaha dan berjuang untuk
memanfaatkan alam sekitarnya dengan cara menggunakan daya dan
tenaga alam untuk kepentingan dirinya.
Tujuan hidup manusia adalah mencapai
kebahagiaan yang diinginkannya. Dengan dibekali akal pikiran/rasio itulah maka
manusia diharapkan dapat berfikir secara maksimal dalam mencapai tujuan
hidupnya tersebut.
Dalam pendidikan, jika seseorang telah menguasai ilmu
atau hal yang ingin diketahuinya, maka ia telah mencapai tujuan pendidikannya
tersebut. Begitu pula dengan kehidupan. Dalam kehidupan, kebanyakan manusia
ingin memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan proses
pendidikan yang dijalaninya dengan sungguh-sungguh, maka manusia akan dapat
mencapai tujuan hidupnya tersebut. Inilah yang disebut tujuan hidup manusia
sebagai tujuan akhir pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Djumransjah. Filsafat Pendidikan (Malang: Bayumedia Publishing. 2006).
Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan Islam II (Bandung: Pustaka Setia. 1997).
Yunus,
Mahmud. Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran (Jakarta: PT. Hidakarya Agung. 1990).
Uhbiyati, Nur dan Ahmadi, Abu. Ilmu Pendidikan Islam I (Bandung Pustaka Setia, 1997).
http://www.staitasik.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=116:teologi-tujuan-pendidikan-islam-dalam-perspektif-tujuan-hidup-manusia&catid=46:artikel-dosen&Itemid=1
[1]
Djumransjah, Filsafat Pendidikan (Malang:
Bayumedia Publishing, 2006) hal. 101-103.
[3]
Mahmud Yunus, Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990) hal. 14.
[4]
Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I,
(Bandung Pustaka Setia, 1997) hal. 35.
[7] http://www.staitasik.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=116:teologi-tujuan-pendidikan-islam-dalam-perspektif-tujuan-hidup-manusia&catid=46:artikel-dosen&Itemid=1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar