Minggu, 18 September 2016

MAKALAH PENDIDKAN ISLAM PADA MASA DINASTI SALJUQ

“PENDIDKAN ISLAM PADA MASA DINASTI SALJUQ”
Makalah ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“Sejarah Pendidikan Islam Klasik”


Disusun Oleh:
Sifa Ma’rifat  (210312220)
Wildan Fuadi (210312221)
Ahmad Rifa’i (210312222)
Dosen Pengampu:
Yusmicha Ulya Afif M.Pd.I
TB.G/3
JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2013
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pemerintahan Dinasti Saljuq merupakan sejarah kekhalifahan Abbasiyah. Dalam catatan sejarah, periode Saljuq ini merupakan periode ke-2 dari kekhalifahan Abbasiyah. Dinasti Saljuq meraih tampuk kekuasaan  di lingkungan kekhalifahan Abbasiyah setelah menumbangkan Dinasti Buwaihi dan kekuasaannya berlangsung kira-kira dua abad.
Periode Saljuq ini, cukup menarik untuk dikaji dan teliti lebih dalam lagi. Setidaknya ada dua hal yang bisa dikemukakan sebagai alasan, yakni:
1.      Pada periode ini, telah lahir Imam al-Ghazali, seorang ulama besar dan kenamaan yang akan memengaruhi jalan sejarah umat islam pada masa berikutnya terutama di dunia Islam sebelah timur yang mayoritas beralira Sunni.
2.      Periode ini merupakan periode kekhalifahan Abbasiyah  yang terakhir. Tanda-tanda kemunduran kekhalifahan Abbasiyah mulai tampak kelihatan. Puncak dari kemunduran itu adalah jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa Mongol.

B.     Rumusan Masalah.

1.      Bagaimana sejarah berdirinya dinasti Saljuq!
2.      Apa saja lembaga pendidikan pada masa itu!
3.      Apa materi yang di ajarkan dalam madrasah itu!
4.      Apa saja prestasi yang dicapai ole


PEMBAHASAN

A.  Sekilas tentang Dinasti Saljuq
Dinasti Saljuq didirikan oleh Tughril Beg pada tahun 492 H/1037 M. Pengumuman pendirian dinasti ini, dilakukannya segera setelah kaum Saljuq mengalahkan kaum Ghaznah pada tahun yang sama. Setelah kedudukan Dinasti Saljuq menjadi kuat dan mantap, barulah diiktiraf oleh Khalifah Abbasiyah pada tahun 432 H.
Kekhalifahan Abbasiyah yang dikuasai oleh Dinasti Saljuq baru terjadi pada tahun 447 H/1055 M. Penguasa sebelumnya adalah Dinasti Buwaihi yang menganut aliran Syi’i. Sedangkan Dinasti Saljuq sendiri menganut aliran Sunni. Dinasti Buwaihi ditaklukkan oleh Dinasti Saljuq pada tahun 447 H/1055 M yang ditandai dengan pendudukan kota Baghdad sebagai kekhalifahan Abbasiyah oleh bala tentara Saljuq. Sejak itu, berakhirlah Dinasti Syi’i dan kembalilah kekuasan Dinasti Sunni di dalam kekhalifahan Abbasiyah.
Dinasti Saljuq bisa mempertahankan kekuasaannya selama kira-kira dua abad. Pusat pemerintahannya berada di kota Nisabur dan kemudian pindah ke Rayi. Sedangkan kota Baghdad berfungsi sebagai ibu kota kaegamaan atau kerohanian tempat bersemayamnya Khalifah Abbasiyah yang menikmati pengaruh keagamaan.
 Keberhasilan Dinasti Saljuq mempertahankan kekuasaannya selama kira-kira dua abad tak terlepas dari peranan para pejabat/wazir/menteri yang ada di lingkungan Pemerintahannya. Di antara wazir-wazir yang terkenal pada masa itu adalah:
1.      Abu Nasr Muhammad bin Muhammad Fakhrul Daulah bin Juhair, wazir pada masa al-Qa’im.
2.      Abu Syarwan bin Khalil al-Qasyani, wazir pada masa al-Mustarsyid.
3.      Ibn al-Attar, wazir pada masa al-Nasir.
4.      Abu Nasr Muhammad  bin Mansur al-Kundari, wazir Sultan Tughrul Beg dan Sultan Alb Arsalan.
5.      Taju al-Din Abu al- Ghanayim, wazir Sultan Sanjar.
6.      Ali bin al-Hasan al-Tighra’i, wazir Sultan Sanjar.
7.      Sa’ad bin Ali bin Isa, wazir Sultan Mahmud di Irak.
8.      Al-Ustaz al- Tughra’i, wazir Sultam Mas’ud bin Muhammad di Irak, dan
9.      Nizam al- Mulk, wazir Sultan Alb Arsalan dan Sultan Malik Syah.[1]

B.     Lembaga Pendidikan
Madarasah, menurut para ahli sejarah pertama kali dikenal di dunia islam pada masa Dinasti Saljuq. Penggagas berdirinya adalah salah seorang wazir terkenal Dinasti Saljuq yang bernama Nizam al-Mulk (465-485 H). Menurut al-Subki, Madrasah itu didirikan di berbagai kota di dalam wilayah kekuasaan Dinasti Saljuq seperti Baghdad, Nisapur, Balk, Heart, Asfahan, Bashrah, Marwu, Annal, dan Mausil. Nizan al-Mulk mempunyai madrasah di setiap kota Irak dan Khurasan. Madrasah-madrasah itu diberi nama Nizamiyah sesuai nama pendirinya.[2]
Di masa ini, agama dan pendidikan dikembangkan, Nizam Al- Mulk mendirikan  Universitas Nizamiyah pada 1065 M. Lembaga inilah yang kemudian dijadikan model lembaga pendidikan yang standar. Dari perhatiannya di bidang ini, akhirnya melahirkan banyak para ilmuwan seperti Al-Zamakhsyari dalam bidang tafsir Al- Qur’an, Al-Ghozali dalam bidang theologi, Al-Athor serta Umar Khayam dalam bidang sastra.[3]
Pendirian madrasah Nizamiyah itu, disamping memiliki motif pendidikan, juga memiliki motif atau kepentingan politik Dinasti Saljuq pada saat itu. Dinasti Buwaihi, Syi’ah berkembang dikalangan pemerintahan dan sengaja disebarkan kepada rakyat, meskipun hal ini tidak mudah. Bani saljuq berusaha menanamkan pengaruh aliran itu di tengah-tengah masyarakatnya melalui propaganda  termasuk melalui aktivitas kependidikan. menjaga keamanan bani Abbas untuk membendung faham Syi’ah dan mengembangkan faham Sunni yang mereka anut.[4] Aliran sunni dan syi’i memiliki doktrin atau ideologi politik yang berbeda. Untuk mengatasinya, dinasti Saljuq melakukan propaganda tandingan. Salah satunya melalui institusi pendidikan madrasah.[5]
Institusi pendidikan yang bernama madrasah ini memang cukup fenomenal pada masa ini. Madrasah didirikan secara besar-besaran diseluruh penjuru negeri terutama di kota-kota yang menjadi titik pusat perkembangan peradapan saat itu. Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengapa pemerintah Saljuq ini sangat antusias untuk mendirikan madrasah-madrasah, yaitu:[6]
1.      Mengambil hati rakyat
2.      Untuk mengharapkan pahala dan ampunan dari Tuhan.
3.      Untuk memelihara anaknya di kemudian hari.
4.      Untuk memperkuat aliran keagamaan pemerintah.

C.    Materi Pendidikan
Kurikulum atau program di madrasah di pengaruhi oleh ideologi dominan saat itu. Yakni ideologi Sunni. Kurikulum yang sangat erat dengan ilmu-ilmu keagamaan versi Sunni (ilmu fiqih, ishul fiqih, ilmu kalam dan ilmu tafsir). Memang sangat wajar dan logis keadaan seperti ini. Program atau kurikulum pendidikan merupakan cermin ideologi dominan yang dianut masyarakat yang ada pada suatu saat. Ideologi dominan yang ada pada dinasti Saljuq dan kebetulan menjadi ideologi resmi penguasa atau pemerintah adalah Sunni.[7]
Sehingga cukup beralasan mengapa materi keagamaan cukup mendominasi dalam kurikulum madrasah itu.  Bukti dominasi ilmu-ilmu keagamaan dalam madrasah juga terbukti dari dokumen wakaf madrasah Nizamiyah. Yakni:
1.      Nizamiyah merupakan wakaf yang disediakan untuk kepentingan penganut madzhab Syafi’i dalam fiqih dan ushul fiqih
2.      Harta benda yang di wakafkan kepada Nizamiyah adalah untuk kepentingan penganut madzhab Syafi’i dalam fiqih dan ushul fiqih
3.      Pejabat-pejabat utama Nizamiyah harus bermadzhab Syafi’i dalam fiqih dan ushul fiqih, ini mencakup Mudarris, Wa’idh dan Pustakawan
4.      Nizamiyah harus mempunyai seorang tenaga pengajar bidang kajian Al-Qur’an
5.      Nizamiyah harus mempunyai seorang tenaga pengajar bahasa arab, dan
6.      Setiap staf menerima bagian tertentu dari penghasilan yang diperoleh dari harta wakaf  Nizamiyah.[8]

D.    Kemajuan yang dicapai
Setelah mampu menguasai dinasti Abbasiyah ada beberapa langkah yang dilakukan oleh penguasa Saljuq untuk memajukan dinastinya. Beberapa langkah itu antara lain dapat dilihat pada kemajuan-kemajuan berikut:
1.      Politik
Meskipun Saljuq mampu menguasai Baghdad, namun kaum Saljuq ini tidak menjadikan Baghdad sebagai pusat kegiatan politiknya. Kaum Saljuq menjadikan kegiatan politiknya di kota Naisabur. Hal ini untuk membedakannya dengan Baghdad yang tetap dipertahankan sebagai kota penting , dimana kholifah melakukan fungsinya sebagai pemimpin spiritual.
Dijelaskan pula bahwa wazir Nizam Al-Mulk memberikan perhatian yang sungguh-sungguh tentang administrasi negara. Dia melakukan analisa pendapatan negara di setiap akhir tahun, untuk mengetahui perimbangan antara pendapatan dan belanja negara. Di zaman wazir inilah lahir sebuah perguruan tinggi terkemuka di Baghdad yaitu madrasah Nizamiyah.
2.      Ilmu Pengetahuan
Tampaknya dalam perjalanan sejarah islam, universitas Nizamiyah inilah yang menjadi model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. Perguruan tinggi Nizamiyah ini merupakan perguruan yang telah teratur mengenai kurikulum dan silabusnya. Tenaga kerjanya mendapat gaji yang cukup. Semua mahasiswa belajar dengan gratis bagi yang miskin mendapat tunjangan tertentu yang diambilkan dari dana khusus untuk keperluan tersebut. Pemerintah waktu itu, memang sudah mengalokasikan anggaran yang cukup untuk semua kebutuhan perguruan tinggi ini, pendanaannya banyak di ambilkan dari pajak dan dana waqaf.
Kaitannya dengan ilmu pengetahuan, Nizam Al-Mulk memberikan perhatiannya yang besar. Perhatiannya itu, ditampakkan melalui kegiatan-kegiatan atau kebijakan-kabijakan tertentu seperti ia mengumpulkan para ulama dari berbagai disiplin ilmu, dikeluarkannya dana tetap cendekiawan, dan didirikannya perpustakaan yang dilengkapi dengan buku-buku. Bahkan bahawa setiap kali Nizam Al-Mulk menjumpai seorang alim dan banyak pengetahuannya, maka ia membangun sekolah untuk orang alim itu, ia mewaqafkan tanah untuk sekolah itu dan juga melengkapinya dengan perpustakaan. Ini contoh penguasa yang menghargai arti penting dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.[9]
3.      Seni dan Bangunan
Bangunan yang merupakan peninggalan Bani Saljuq di Isfahan merupakan pertanda besarnya perhatian mereka terhadap pembangunan fisik. Selain itu juga pada masa itu dilakukan pula berbagai kegiatan pembangunan, seperti pemugaran Benteng Bukhoro, pembangunan berbagai Masjid, Rumah Sakit dan Sekolah-sekolah di brbagai desa dan Kota. Disamping pesatnya pembangunan fisik, maka bidang seni juga mendapat perhatian pada masa itu. Lukisan dan kaligrafi berkembang dengan baik. Sultan-sultan Bani Saljuq memberikan perlindungan, dorongan dan motivasi kepada para seniman. Sehingga bisa dikatakan bahwa kemajuan bidang fisik dan kemajuan bidang non fisik berjalan beriringan.
Pada masa pemerintah Nizam Al-Mulk, selain dia membangun beberapa Madrasah Nizamiyah, ia juga melakukan perluasan terhadap Masjid Al-Haram dan Masjid Al- Nabawi. Bahkan di zaman Malik Syah sudah pernah didirikan gedung peneropong bintang. Dan pada masa Naib Wazir Abu Nashr di bangun Panti Asuhan untuk anak-anak yatim di Baghdad, sehingga anak-anak yatim mendapat santunan yang cukup, baik makanan, pakaian, maupun pendidikan. Meskipun ini menampakkan kemajuan non fisik tetapi sebetulnya pula menunjukkan bergairahnya beberapa sektor atau bidang, seperti majunya ilmu pengetahuan, tingginya perhatian terhadap hal keagamaan, juga terperhatikannya masalah-masalah sosial.[10]











PENUTUP

Kesimpulan
Dinasti Buwaihi ditaklukkan oleh Dinasti Saljuq pada tahun 447 H/1055 M yang ditandai dengan pendudukan kota Baghdad sebagai kekhalifahan Abbasiyah oleh bala tentara Saljuq. Sejak itu, berakhirlah Dinasti Syi’i dan kembalilah kekuasan Dinasti Sunni di dalam kekhalifahan Abbasiyah.
Di masa ini, agama dan pendidikan dikembangkan, Nizam Al- Mulk mendirikan  Universitas Nizamiyah pada 1065 M. Dan madrasah Hanafiyah di Baghdad. Lembaga inilah yang kemudian dijadikan model lembaga pendidikan yang standar. Dari perhatiannya di bidang ini, akhirnya melahirkan banyak para ilmuwan seperti Al-Zamakhsyari dalam bidang tafsir Al- Qur’an, Al-Ghozali dalam bidang theologi, Al-Athor serta Umar Khayam dalam bidang sastra
Kurikulum atau program di madrasah di pengaruhi oleh ideologi dominan saat itu. Yakni ideologi Sunni. Kurikulum yang sangat erat dengan ilmu-ilmu keagamaan versi Sunni (ilmu fiqih, ishul fiqih, ilmu kalam dan ilmu tafsir). Memang sangat wajar dan logis keadaan seperti ini. Program atau kurikulum pendidikan merupakan cermin ideologi dominan yang dianut masyarakat yang ada pada suatu saat. Ideologi dominan yang ada pada dinasti Saljuq dan kebetulan menjadi ideologi resmi penguasa atau pemerintah adalah Sunni.
Adapun kemajuan yang dicapai oleh dinasti Saljuq yaitu:
1.      Bidang Politik
2.      Ilmu Pengetahuan
3.      Seni dan Bangunan






DAFTAR PUSTAKA

     
Fuadi, Imam. Sejarah Perdaban Islam. Yogyakarta: Sukses Offset. 2011.
Hakim, Moh Nur.  Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press. 2004.
Suwito. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2008



       [1]Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 148-149.
        [2]Ibid., 150.
        [3]Moh Nur Hakim,  Sejarah dan Peradaban Islam (Malang: UMM Press, 2004), 95.
       [4]Hakim, Sejarah..., 94.
        [5]Suwito, Sejarah Sosial...., 151
       [6]Ibid., 152-153.
       [7]Ibid., 157.
       [8]Ibid., 155.
        [9]Imam Fuadi, Sejarah Perdaban Islam (Yogyakarta: Sukses Offset, 2011), 204-205.
        [10]Ibid., 205-206. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar