“PENDIDKAN ISLAM PADA MASA DINASTI SALJUQ”
Makalah ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“Sejarah Pendidikan Islam Klasik”
Disusun Oleh:
Sifa Ma’rifat (210312220)
Wildan Fuadi (210312221)
Ahmad Rifa’i (210312222)
Dosen Pengampu:
Yusmicha Ulya Afif M.Pd.I
TB.G/3
JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2013
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pemerintahan
Dinasti Saljuq merupakan sejarah kekhalifahan Abbasiyah. Dalam catatan sejarah,
periode Saljuq ini merupakan periode ke-2 dari kekhalifahan Abbasiyah. Dinasti
Saljuq meraih tampuk kekuasaan di
lingkungan kekhalifahan Abbasiyah setelah menumbangkan Dinasti Buwaihi dan
kekuasaannya berlangsung kira-kira dua abad.
Periode Saljuq
ini, cukup menarik untuk dikaji dan teliti lebih dalam lagi. Setidaknya ada dua
hal yang bisa dikemukakan sebagai alasan, yakni:
1.
Pada
periode ini, telah lahir Imam al-Ghazali, seorang ulama besar dan kenamaan yang
akan memengaruhi jalan sejarah umat islam pada masa berikutnya terutama di dunia
Islam sebelah timur yang mayoritas beralira Sunni.
2.
Periode
ini merupakan periode kekhalifahan Abbasiyah
yang terakhir. Tanda-tanda kemunduran kekhalifahan Abbasiyah mulai
tampak kelihatan. Puncak dari kemunduran itu adalah jatuhnya kota Baghdad ke
tangan bangsa Mongol.
B.
Rumusan
Masalah.
1.
Bagaimana
sejarah berdirinya dinasti Saljuq!
2.
Apa
saja lembaga pendidikan pada masa itu!
3.
Apa
materi yang di ajarkan dalam madrasah itu!
4.
Apa
saja prestasi yang dicapai ole
PEMBAHASAN
A.
Sekilas
tentang Dinasti Saljuq
Dinasti Saljuq
didirikan oleh Tughril Beg pada tahun 492 H/1037 M. Pengumuman pendirian
dinasti ini, dilakukannya segera setelah kaum Saljuq mengalahkan kaum Ghaznah
pada tahun yang sama. Setelah kedudukan Dinasti Saljuq menjadi kuat dan mantap,
barulah diiktiraf oleh Khalifah Abbasiyah pada tahun 432 H.
Kekhalifahan
Abbasiyah yang dikuasai oleh Dinasti Saljuq baru terjadi pada tahun 447 H/1055
M. Penguasa sebelumnya adalah Dinasti Buwaihi yang menganut aliran Syi’i.
Sedangkan Dinasti Saljuq sendiri menganut aliran Sunni. Dinasti Buwaihi
ditaklukkan oleh Dinasti Saljuq pada tahun 447 H/1055 M yang ditandai dengan
pendudukan kota Baghdad sebagai kekhalifahan Abbasiyah oleh bala tentara
Saljuq. Sejak itu, berakhirlah Dinasti Syi’i dan kembalilah kekuasan
Dinasti Sunni di dalam kekhalifahan Abbasiyah.
Dinasti Saljuq
bisa mempertahankan kekuasaannya selama kira-kira dua abad. Pusat pemerintahannya
berada di kota Nisabur dan kemudian pindah ke Rayi. Sedangkan kota Baghdad
berfungsi sebagai ibu kota kaegamaan atau kerohanian tempat bersemayamnya
Khalifah Abbasiyah yang menikmati pengaruh keagamaan.
Keberhasilan Dinasti Saljuq mempertahankan
kekuasaannya selama kira-kira dua abad tak terlepas dari peranan para pejabat/wazir/menteri
yang ada di lingkungan Pemerintahannya. Di antara wazir-wazir yang terkenal
pada masa itu adalah:
1.
Abu
Nasr Muhammad bin Muhammad Fakhrul Daulah bin Juhair, wazir pada masa al-Qa’im.
2.
Abu
Syarwan bin Khalil al-Qasyani, wazir pada masa al-Mustarsyid.
3.
Ibn
al-Attar, wazir pada masa al-Nasir.
4.
Abu
Nasr Muhammad bin Mansur al-Kundari,
wazir Sultan Tughrul Beg dan Sultan Alb Arsalan.
5.
Taju
al-Din Abu al- Ghanayim, wazir Sultan Sanjar.
6.
Ali
bin al-Hasan al-Tighra’i, wazir Sultan Sanjar.
7.
Sa’ad
bin Ali bin Isa, wazir Sultan Mahmud di Irak.
8.
Al-Ustaz
al- Tughra’i, wazir Sultam Mas’ud bin Muhammad di Irak, dan
9.
Nizam
al- Mulk, wazir Sultan Alb Arsalan dan Sultan Malik Syah.[1]
B.
Lembaga
Pendidikan
Madarasah, menurut para ahli sejarah pertama kali dikenal di dunia
islam pada masa Dinasti Saljuq. Penggagas berdirinya adalah salah seorang wazir
terkenal Dinasti Saljuq yang bernama Nizam al-Mulk (465-485 H). Menurut
al-Subki, Madrasah itu didirikan di berbagai kota di dalam wilayah kekuasaan
Dinasti Saljuq seperti Baghdad, Nisapur, Balk, Heart, Asfahan, Bashrah, Marwu,
Annal, dan Mausil. Nizan al-Mulk mempunyai madrasah di setiap kota Irak dan
Khurasan. Madrasah-madrasah itu diberi nama Nizamiyah sesuai nama pendirinya.[2]
Di masa ini, agama dan pendidikan dikembangkan, Nizam Al- Mulk
mendirikan Universitas Nizamiyah pada
1065 M. Lembaga inilah yang kemudian dijadikan model lembaga pendidikan yang
standar. Dari perhatiannya di bidang ini, akhirnya melahirkan banyak para
ilmuwan seperti Al-Zamakhsyari dalam bidang tafsir Al- Qur’an, Al-Ghozali dalam
bidang theologi, Al-Athor serta Umar Khayam dalam bidang sastra.[3]
Pendirian madrasah Nizamiyah itu, disamping memiliki motif
pendidikan, juga memiliki motif atau kepentingan politik Dinasti Saljuq pada
saat itu. Dinasti Buwaihi, Syi’ah berkembang dikalangan pemerintahan dan
sengaja disebarkan kepada rakyat, meskipun hal ini tidak mudah. Bani saljuq
berusaha menanamkan pengaruh aliran itu di tengah-tengah masyarakatnya melalui
propaganda termasuk melalui aktivitas
kependidikan. menjaga keamanan bani Abbas untuk membendung faham Syi’ah
dan mengembangkan faham Sunni yang mereka anut.[4] Aliran
sunni dan syi’i memiliki doktrin atau ideologi politik yang
berbeda. Untuk mengatasinya, dinasti Saljuq melakukan propaganda tandingan.
Salah satunya melalui institusi pendidikan madrasah.[5]
Institusi pendidikan yang bernama madrasah ini memang cukup
fenomenal pada masa ini. Madrasah didirikan secara besar-besaran diseluruh
penjuru negeri terutama di kota-kota yang menjadi titik pusat perkembangan
peradapan saat itu. Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengapa pemerintah Saljuq
ini sangat antusias untuk mendirikan madrasah-madrasah, yaitu:[6]
1.
Mengambil
hati rakyat
2.
Untuk
mengharapkan pahala dan ampunan dari Tuhan.
3.
Untuk
memelihara anaknya di kemudian hari.
4.
Untuk
memperkuat aliran keagamaan pemerintah.
C.
Materi
Pendidikan
Kurikulum atau program di madrasah di pengaruhi oleh ideologi
dominan saat itu. Yakni ideologi Sunni. Kurikulum yang sangat erat dengan
ilmu-ilmu keagamaan versi Sunni (ilmu fiqih, ishul fiqih, ilmu kalam dan
ilmu tafsir). Memang sangat wajar dan logis keadaan seperti ini. Program atau
kurikulum pendidikan merupakan cermin ideologi dominan yang dianut masyarakat yang
ada pada suatu saat. Ideologi dominan yang ada pada dinasti Saljuq dan
kebetulan menjadi ideologi resmi penguasa atau pemerintah adalah Sunni.[7]
Sehingga cukup beralasan mengapa materi keagamaan cukup mendominasi
dalam kurikulum madrasah itu. Bukti
dominasi ilmu-ilmu keagamaan dalam madrasah juga terbukti dari dokumen wakaf
madrasah Nizamiyah. Yakni:
1.
Nizamiyah
merupakan wakaf yang disediakan untuk kepentingan penganut madzhab Syafi’i
dalam fiqih dan ushul fiqih
2.
Harta
benda yang di wakafkan kepada Nizamiyah adalah untuk kepentingan penganut madzhab
Syafi’i dalam fiqih dan ushul fiqih
3.
Pejabat-pejabat
utama Nizamiyah harus bermadzhab Syafi’i dalam fiqih dan ushul fiqih, ini
mencakup Mudarris, Wa’idh dan Pustakawan
4.
Nizamiyah
harus mempunyai seorang tenaga pengajar bidang kajian Al-Qur’an
5.
Nizamiyah
harus mempunyai seorang tenaga pengajar bahasa arab, dan
6.
Setiap
staf menerima bagian tertentu dari penghasilan yang diperoleh dari harta wakaf Nizamiyah.[8]
D.
Kemajuan
yang dicapai
Setelah mampu menguasai dinasti Abbasiyah ada beberapa langkah yang
dilakukan oleh penguasa Saljuq untuk memajukan dinastinya. Beberapa langkah itu
antara lain dapat dilihat pada kemajuan-kemajuan berikut:
1.
Politik
Meskipun Saljuq mampu menguasai Baghdad, namun kaum Saljuq ini
tidak menjadikan Baghdad sebagai pusat kegiatan politiknya. Kaum Saljuq
menjadikan kegiatan politiknya di kota Naisabur. Hal ini untuk membedakannya
dengan Baghdad yang tetap dipertahankan sebagai kota penting , dimana kholifah
melakukan fungsinya sebagai pemimpin spiritual.
Dijelaskan pula bahwa wazir Nizam Al-Mulk memberikan perhatian yang
sungguh-sungguh tentang administrasi negara. Dia melakukan analisa pendapatan
negara di setiap akhir tahun, untuk mengetahui perimbangan antara pendapatan
dan belanja negara. Di zaman wazir inilah lahir sebuah perguruan tinggi terkemuka
di Baghdad yaitu madrasah Nizamiyah.
2.
Ilmu
Pengetahuan
Tampaknya dalam
perjalanan sejarah islam, universitas Nizamiyah inilah yang menjadi model bagi
perguruan tinggi di kemudian hari. Perguruan tinggi Nizamiyah ini merupakan
perguruan yang telah teratur mengenai kurikulum dan silabusnya. Tenaga kerjanya
mendapat gaji yang cukup. Semua mahasiswa belajar dengan gratis bagi yang
miskin mendapat tunjangan tertentu yang diambilkan dari dana khusus untuk
keperluan tersebut. Pemerintah waktu itu, memang sudah mengalokasikan anggaran
yang cukup untuk semua kebutuhan perguruan tinggi ini, pendanaannya banyak di
ambilkan dari pajak dan dana waqaf.
Kaitannya
dengan ilmu pengetahuan, Nizam Al-Mulk memberikan perhatiannya yang besar.
Perhatiannya itu, ditampakkan melalui kegiatan-kegiatan atau
kebijakan-kabijakan tertentu seperti ia mengumpulkan para ulama dari berbagai
disiplin ilmu, dikeluarkannya dana tetap cendekiawan, dan didirikannya
perpustakaan yang dilengkapi dengan buku-buku. Bahkan bahawa setiap kali Nizam
Al-Mulk menjumpai seorang alim dan banyak pengetahuannya, maka ia membangun
sekolah untuk orang alim itu, ia mewaqafkan tanah untuk sekolah itu dan juga
melengkapinya dengan perpustakaan. Ini contoh penguasa yang menghargai arti
penting dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.[9]
3.
Seni
dan Bangunan
Bangunan yang
merupakan peninggalan Bani Saljuq di Isfahan merupakan pertanda besarnya perhatian
mereka terhadap pembangunan fisik. Selain itu juga pada masa itu dilakukan pula
berbagai kegiatan pembangunan, seperti pemugaran Benteng Bukhoro, pembangunan
berbagai Masjid, Rumah Sakit dan Sekolah-sekolah di brbagai desa dan Kota.
Disamping pesatnya pembangunan fisik, maka bidang seni juga mendapat perhatian pada
masa itu. Lukisan dan kaligrafi berkembang dengan baik. Sultan-sultan Bani
Saljuq memberikan perlindungan, dorongan dan motivasi kepada para seniman.
Sehingga bisa dikatakan bahwa kemajuan bidang fisik dan kemajuan bidang non
fisik berjalan beriringan.
Pada masa
pemerintah Nizam Al-Mulk, selain dia membangun beberapa Madrasah Nizamiyah, ia
juga melakukan perluasan terhadap Masjid Al-Haram dan Masjid Al- Nabawi. Bahkan
di zaman Malik Syah sudah pernah didirikan gedung peneropong bintang. Dan pada
masa Naib Wazir Abu Nashr di bangun Panti Asuhan untuk anak-anak yatim di
Baghdad, sehingga anak-anak yatim mendapat santunan yang cukup, baik makanan,
pakaian, maupun pendidikan. Meskipun ini menampakkan kemajuan non fisik tetapi
sebetulnya pula menunjukkan bergairahnya beberapa sektor atau bidang, seperti
majunya ilmu pengetahuan, tingginya perhatian terhadap hal keagamaan, juga
terperhatikannya masalah-masalah sosial.[10]
PENUTUP
Kesimpulan
Dinasti Buwaihi ditaklukkan oleh Dinasti Saljuq pada tahun 447
H/1055 M yang ditandai dengan pendudukan kota Baghdad sebagai kekhalifahan
Abbasiyah oleh bala tentara Saljuq. Sejak itu, berakhirlah Dinasti Syi’i
dan kembalilah kekuasan Dinasti Sunni di dalam kekhalifahan Abbasiyah.
Di masa ini, agama dan pendidikan dikembangkan, Nizam Al- Mulk
mendirikan Universitas Nizamiyah pada
1065 M. Dan madrasah Hanafiyah di Baghdad. Lembaga inilah yang kemudian
dijadikan model lembaga pendidikan yang standar. Dari perhatiannya di bidang
ini, akhirnya melahirkan banyak para ilmuwan seperti Al-Zamakhsyari dalam
bidang tafsir Al- Qur’an, Al-Ghozali dalam bidang theologi, Al-Athor serta Umar
Khayam dalam bidang sastra
Kurikulum atau program di madrasah di pengaruhi oleh ideologi
dominan saat itu. Yakni ideologi Sunni. Kurikulum yang sangat erat
dengan ilmu-ilmu keagamaan versi Sunni (ilmu fiqih, ishul fiqih, ilmu
kalam dan ilmu tafsir). Memang sangat wajar dan logis keadaan seperti ini.
Program atau kurikulum pendidikan merupakan cermin ideologi dominan yang dianut
masyarakat yang ada pada suatu saat. Ideologi dominan yang ada pada dinasti
Saljuq dan kebetulan menjadi ideologi resmi penguasa atau pemerintah adalah Sunni.
Adapun kemajuan yang dicapai oleh dinasti Saljuq yaitu:
1.
Bidang
Politik
2.
Ilmu
Pengetahuan
3.
Seni
dan Bangunan
DAFTAR PUSTAKA
Fuadi, Imam. Sejarah Perdaban Islam. Yogyakarta: Sukses
Offset. 2011.
Hakim, Moh Nur. Sejarah
dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press. 2004.
Suwito. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group. 2008

