Minggu, 18 September 2016

MAKALAH Konsep Tujuan Pendidikan Latahshilil Ma’lumat dalam Pendidikan Islam

Konsep Tujuan Pendidikan Latahshilil Ma’lumat dalam Pendidikan Islam
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
“ILMU PENDIDIKAN ISLAM”




                                                    Dosen Pengampu:       
Miftahul Ulum

Disusun oleh:
Ansori   (210312153)



JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
MARET 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Manusia merupakan salah satu makhluk hidup yang menjadi anggota populasi di permukaan bumi. Ia adalah suatu himpunan yang memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh sekian juta makhluk hidup lainnya. Manusia, selama hidupnya selalu berusaha dan berjuang untuk memanfaatkan alam sekitarnya dengan cara menggunakan daya dan tenaga alam untuk kepentingan dirinya. [1]
Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya terletak pada sifat-sifat kehidupan rohaninya, yaitu bahwa manusia memiliki potensi akal budi. Dengan potensi ini manusia dapat berfikir dan berbuat melebihi kemampuan hewan. Manusia dapat memahami hal-hal abstrak, dan mengabstraksikan hal-hal konkrit. Karena akal, manusia melahirkan kebudayaan, mengubah benda-benda alam menjadi benda budaya sesuai dengan kehendak dan kebutuhan hidupnya. Karena akal, manusia menjadi bermoral dan menciptakan norma-norma hidup bermasyarakat. Oleh karena memiliki akal budi itulah, manusia menjadi makhluk bijaksana yang mencari tujuan-tujuan (homo sapiens), makhluk yang pandai bekerja, menggunakan alat (selalu mencari konkretasi) atau (homo faber), dan makhluk yang menyukai proses tanpa tujuan (homo ludens), manusia mempnyai akal budi maka manusia menjadi homo politikus yang akan mencari kabebasan dirinya sendiri maupun masyarakat dan cara menerobos batas-batasnya. Selain itu, menjadi homo religius yang akan percaya kepada penentuan atau takdir.
Kehidupan manusia selalu berubah tergantung pada pengharapan, cita-cita hidup atau pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan hidup dalam masyarakat. Di sini, pendidikan memberikan makna yang luas dan dalam bagi perubahan hidup manusia secara individu dan sosial.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa tujuan pendidikan Islam bagi manusia itu sendiri?
2.   
1
 
Bagaimana tujuan pendidikan Latahshililma’lumat dalam pendidikan Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhir yang terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum pendidikan yang berbentuk Insan kamil dengan pola taqwa dapat mengalami perubahan naik-turun,  bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam mengembangkan, memelihara, dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
Menurut Stanley Hall, John Dewey, dkk, bahwa tujuan pendidikan adalah menolong supaya manusia bisa sampai kepada kesempurnaan dan kekayaan dalam kahidupan dan mengetahui bagaimana menghadapi urusan-urusan yang ada dalam kehidupan itu. Sesungguhnya pendidikan itu membahas tentang pikiran, perasaan dan perbuatannya pada tiap-tiap saat dalam kehidupannya.[2]
Tujuan akhir pendidikan Islam yang lain yaitu terwujudnya kepribadian muslim. Kepribadian muslim di sini adalah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam.
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba aspek-aspek kepribadian itu dapat digolongkan ke dalam 3 hal, yaitu:
1.    Aspek-aspek Kejasmaniahan, meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar.
2.    Aspek-aspek Kejiwaan, meliputi aspek-aspek yang tidak segera dapat dilihat dan ketahanan dari luar.
3.   
2
 
Aspek-aspek Kerohanian, meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan.[3]
Ringkasnya yang dimaksud kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwa, maupun filsafat hidup dan kepercayaan menunjukkan pengabdian kepada Tuhan, penyerahan diri kepada-Nya.[4] Maka dengan menguasai aspek-aspek tersebut, manusia akan dapat mencapai tujuan hidupnya sekaligus tujuan pendidikan dalam kehidupannya.
B.  Pendidikan Latahshilil Ma’lumat (Intelektualisme Pendidikan) dalam Pendidikan Islam
Intelektual berasal dari bahasa Inggris intellect yang artinya pandai, pintar, cardas. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Intelektual adalah cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Adapun dalam Kamus Filsafat kata intelektual diterjemahkan dengan sebuah kemampuan kognitif yaitu mengetahui (kecerdasan rasio atau akal) dan dilawankan dengan kemampuan menghendaki dan kemampuan merasa.
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa intelektualisme adalah sebuah pandangan yang menganggap ilmu adalah sebagai satu-satunya jalan meraih harapan atau keinginan.
Berbicara tentang keintelektualan memang tidak bisa lepas dari dua istilah berikut ini, yakni: akal dan ilmu, karena antara keduanya ibarat dua sisi mata uang logam. Akal adalah sumber ilmu, tempat terbit dan dasar ilmu, ilmu berjalan dari padanya seperti jalannya cahaya matahari dan penglihatan dari mata. Sedangkan ilmu dalam pandangan Al-Qur’an sendiri adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.
Akal merupakan kekuatan manusia yang paling besar dan merupakan pemberian Tuhan yang paling besar pula.
ö@è% uqèd ü“Ï%©!$# ö/ä.r't±Sr& Ÿ@yèy_ur â/ä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noy‰Ï«øùF{$#ur ( Wx‹Î=s% $¨B tbrãä3ô±n@ ÇËÌÈ  
Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur. QS. Al-Mulk: 23)
Kata “Hati” dalam Al-Qur’an digunakan untuk pengertian akal atau kekuatan menagkap serta mengindera pada umumnya.[5]
Dalam Al-Qur’an maupun Sunnah banyak sekali di singgung mengenai ilmu, diantaranya:
طَلَبُ الْعلم فريضة على كل مسلمن

“ Mencari ilmu itu wajib hukumnya atas tiap-tiap orang Islam” (HR. Ibnu Majah)
Ilmu pengetahuan merupakan warisan dan hasil dari eksperimen dan pengalaman. Ilmu pengatahuan sebagai warisan menjadi sumber penghidupan dan tumpuan  bagi terwujudnya kemajuan pada masa yang akan datang, maka ilmu pengetahuan harus dipelihara dengan baik demi masa depan. [6]
Dalam memahami alam, Islam menekankan perlunya prinsip-prinsip yang bisa dijadikan pembimbing sehingga ilmu tidak kehilangan kendali. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1.    Prinsip tauhid dan iman,
2.    Prinsip meyakini terhadap realitas dunia eksternal, dan
3.    Prinsip meyakini adanya suprafisik dan keterbatasan pengetahuan manusia.[7]
Gagasan Islamisasi ilmu diimplementasikan dalam dua type yaitu radikal dan parsial. Pada tipe radikal, yang diutamakan ialah islamisasi secara holistik dan mendasar dari akarnya. Masalah utamanya bukanlah islamisasi ilmu-ilmu rasional secara khusus, tetapi islamisasi konsep dan falsafah ilmu.[8]
Sedangkan pada tipe parsial, proses islamisasi ilmu-ilmu rasional secara khusus. Apabila disiplin-disiplin ilmu yang terlibat dalam proses ini dibahas secara kritis, tentu terlihat kekuatan dan kelemahannya.[9]



BAB III
KESIMPULAN
Pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhir yang terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum pendidikan yang berbentuk Insan kamil dengan pola taqwa dapat mengalami perubahan naik-turun,  bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam mengembangkan, memelihara, dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
Intelektual berasal dari bahasa Inggris intellect yang artinya pandai, pintar, cardas. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Intelektual adalah cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Adapun dalam Kamus Filsafat kata intelektual diterjemahkan dengan sebuah kemampuan kognitif yaitu mengetahui (kecerdasan rasio atau akal) dan dilawankan dengan kemampuan menghendaki dan kemampuan merasa.


6
 

 


Daftar Pustaka

Abdullah, Abdul Rahman Haji. Pemikiran Islam di Malaysia. Jakarta: GEMA INSANI PRESS. 1937.
Ahmadi. Manajemen Kurikulum: Pendidikan Kecakapan Hidup. Yogyakarta: PUSTAKA IFADA. 2013.
Basuki dan Ulum, Miftahul. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: GROUND OFFSET. 2007.
Djumransjah. Filsafat Pendidikan. Malang: BAYUMEDIA PUBLISHING. 2006.
Harun, Salman. Sistem Pendidikan Islam. Bandung: PT. AL-MA’ARIF. 1984.
Uhbiyati, Nur dan Ahmadi, Abu. Ilmu Pendidikan Islam I. Bandung: PUSTAKA SETIA. 1997.
Yunus, Mahmud. Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran. Jakarta: PT. HIDAKARYA AGUNG. 1990.




[1] Djumransjah, Filsafat Pendidikan (Malang: Bayumedia Publishing, 2006) hal. 101.
[2] Mahmud Yunus, Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990) hal. 14.
[3] Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I, (Bandung Pustaka Setia, 1997) hal. 35.
[4] Ibid. Hal. 36.
[5] Salman Harun, Sistem Pendidikan Islam (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1984) hal. 127-128.
[6] Basuki dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Ground Offset, 2007) hal. 46.
[7] Ahmadi, Manajemen Kurikulum: Pendidikan Kecakapan Hidup (Yogyakarta: Pustaka Ifada, 2013) hal.21.
[8] Abdul Rahman Haji Abdullah, Pemikiran Islam di Malaysia (Jakarta: Gema Insani Press, 1937) hal. 294.
[9] Ibid., hal. 296.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar