Konsep Tujuan Pendidikan Latahshilil Ma’lumat dalam
Pendidikan Islam
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
“ILMU PENDIDIKAN ISLAM”
Dosen
Pengampu:
Miftahul Ulum
Disusun oleh:
Ansori (210312153)
JURUSAN
TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
MARET 2014
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia merupakan salah satu makhluk hidup yang menjadi anggota populasi di
permukaan bumi. Ia adalah suatu himpunan yang memiliki ciri khas yang tidak
dimiliki oleh sekian juta makhluk hidup lainnya. Manusia, selama hidupnya
selalu berusaha dan berjuang untuk memanfaatkan alam sekitarnya dengan cara
menggunakan daya dan tenaga alam untuk kepentingan dirinya. [1]
Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya terletak pada
sifat-sifat kehidupan rohaninya, yaitu bahwa manusia memiliki potensi akal
budi. Dengan potensi ini manusia dapat berfikir dan berbuat melebihi kemampuan
hewan. Manusia dapat memahami hal-hal abstrak, dan mengabstraksikan hal-hal
konkrit. Karena akal, manusia melahirkan kebudayaan, mengubah benda-benda alam
menjadi benda budaya sesuai dengan kehendak dan kebutuhan hidupnya. Karena
akal, manusia menjadi bermoral dan menciptakan norma-norma hidup bermasyarakat.
Oleh karena memiliki akal budi itulah, manusia menjadi makhluk bijaksana yang
mencari tujuan-tujuan (homo sapiens), makhluk yang pandai bekerja,
menggunakan alat (selalu mencari konkretasi) atau (homo faber), dan
makhluk yang menyukai proses tanpa tujuan (homo ludens), manusia
mempnyai akal budi maka manusia menjadi homo politikus yang akan mencari
kabebasan dirinya sendiri maupun masyarakat dan cara menerobos batas-batasnya.
Selain itu, menjadi homo religius yang akan percaya kepada penentuan
atau takdir.
Kehidupan manusia selalu berubah tergantung pada pengharapan, cita-cita
hidup atau pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan hidup dalam masyarakat. Di
sini, pendidikan memberikan makna yang luas dan dalam bagi perubahan hidup
manusia secara individu dan sosial.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa tujuan pendidikan Islam bagi manusia itu sendiri?
2.
|
Bagaimana tujuan pendidikan Latahshililma’lumat dalam pendidikan
Islam?
PEMBAHASAN
A. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.
Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhir yang terdapat
pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum pendidikan yang
berbentuk Insan kamil dengan pola taqwa dapat mengalami perubahan
naik-turun, bertambah dan berkurang
dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat
mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam mengembangkan, memelihara, dan
mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
Menurut Stanley Hall, John Dewey, dkk, bahwa tujuan pendidikan adalah
menolong supaya manusia bisa sampai kepada kesempurnaan dan kekayaan dalam
kahidupan dan mengetahui bagaimana menghadapi urusan-urusan yang ada dalam
kehidupan itu. Sesungguhnya
pendidikan itu membahas tentang pikiran, perasaan dan perbuatannya pada
tiap-tiap saat dalam kehidupannya.[2]
Tujuan akhir pendidikan Islam yang lain yaitu terwujudnya kepribadian
muslim. Kepribadian muslim di sini adalah kepribadian yang seluruh
aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam.
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba aspek-aspek kepribadian itu dapat digolongkan
ke dalam 3 hal, yaitu:
1. Aspek-aspek Kejasmaniahan, meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak
dan ketahuan dari luar.
2. Aspek-aspek Kejiwaan, meliputi aspek-aspek yang tidak segera dapat
dilihat dan ketahanan dari luar.
3.
|
Aspek-aspek Kerohanian, meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu
filsafat hidup dan kepercayaan.[3]
Ringkasnya yang dimaksud kepribadian muslim ialah kepribadian yang
seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwa,
maupun filsafat hidup dan kepercayaan menunjukkan pengabdian kepada Tuhan,
penyerahan diri kepada-Nya.[4]
Maka dengan menguasai aspek-aspek tersebut, manusia akan dapat mencapai tujuan
hidupnya sekaligus tujuan pendidikan dalam kehidupannya.
B. Pendidikan Latahshilil Ma’lumat (Intelektualisme
Pendidikan) dalam Pendidikan Islam
Intelektual berasal dari bahasa
Inggris intellect yang artinya pandai, pintar, cardas. Sedangkan dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Intelektual adalah cerdas, berakal dan berpikiran
jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Adapun dalam Kamus Filsafat kata intelektual
diterjemahkan dengan sebuah kemampuan kognitif yaitu mengetahui (kecerdasan
rasio atau akal) dan dilawankan dengan kemampuan menghendaki dan kemampuan
merasa.
Dari pengertian di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa intelektualisme adalah sebuah pandangan yang
menganggap ilmu adalah sebagai satu-satunya jalan meraih harapan atau keinginan.
Berbicara tentang keintelektualan memang tidak bisa lepas dari dua istilah
berikut ini, yakni: akal dan ilmu, karena antara
keduanya ibarat dua sisi mata uang logam. Akal adalah sumber ilmu, tempat
terbit dan dasar ilmu, ilmu berjalan dari padanya seperti jalannya cahaya
matahari dan penglihatan dari mata. Sedangkan ilmu dalam pandangan Al-Qur’an
sendiri adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk
lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.
Akal merupakan kekuatan manusia yang paling besar dan merupakan pemberian
Tuhan yang paling besar pula.
ö@è% uqèd üÏ%©!$# ö/ä.r't±Sr& @yèy_ur â/ä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur ( WxÎ=s% $¨B tbrãä3ô±n@ ÇËÌÈ
Katakanlah: "Dia-lah yang
menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati".
(tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur. QS. Al-Mulk: 23)
Kata “Hati” dalam Al-Qur’an digunakan untuk pengertian akal atau
kekuatan menagkap serta mengindera pada umumnya.[5]
Dalam Al-Qur’an maupun Sunnah banyak sekali di singgung mengenai ilmu,
diantaranya:
طَلَبُ الْعلم فريضة على كل مسلمن
“ Mencari ilmu itu wajib hukumnya atas
tiap-tiap orang Islam” (HR. Ibnu Majah)
Ilmu pengetahuan merupakan warisan dan hasil dari eksperimen dan
pengalaman. Ilmu pengatahuan sebagai warisan menjadi sumber penghidupan dan
tumpuan bagi terwujudnya kemajuan pada
masa yang akan datang, maka ilmu pengetahuan harus dipelihara dengan baik demi
masa depan. [6]
Dalam memahami alam, Islam menekankan perlunya prinsip-prinsip yang bisa
dijadikan pembimbing sehingga ilmu tidak kehilangan kendali. Prinsip-prinsip
tersebut adalah:
1. Prinsip tauhid dan iman,
2. Prinsip meyakini terhadap realitas dunia
eksternal, dan
3. Prinsip meyakini adanya suprafisik dan
keterbatasan pengetahuan manusia.[7]
Gagasan Islamisasi ilmu diimplementasikan dalam dua type yaitu radikal dan
parsial. Pada tipe radikal, yang diutamakan ialah islamisasi secara
holistik dan mendasar dari akarnya. Masalah utamanya bukanlah islamisasi
ilmu-ilmu rasional secara khusus, tetapi islamisasi konsep dan falsafah ilmu.[8]
Sedangkan pada tipe parsial, proses islamisasi ilmu-ilmu rasional secara
khusus. Apabila disiplin-disiplin ilmu yang terlibat dalam proses ini dibahas
secara kritis, tentu terlihat kekuatan dan kelemahannya.[9]
KESIMPULAN
Pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.
Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhir yang terdapat
pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum pendidikan yang
berbentuk Insan kamil dengan pola taqwa dapat mengalami perubahan
naik-turun, bertambah dan berkurang
dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat
mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam mengembangkan, memelihara, dan
mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
Intelektual berasal dari bahasa
Inggris intellect yang artinya pandai, pintar, cardas. Sedangkan dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Intelektual adalah cerdas, berakal dan berpikiran
jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Adapun dalam Kamus Filsafat kata intelektual
diterjemahkan dengan sebuah kemampuan kognitif yaitu mengetahui (kecerdasan
rasio atau akal) dan dilawankan dengan kemampuan menghendaki dan kemampuan
merasa.
|
Abdullah, Abdul Rahman Haji. Pemikiran
Islam di Malaysia. Jakarta: GEMA INSANI PRESS. 1937.
Ahmadi. Manajemen Kurikulum: Pendidikan
Kecakapan Hidup. Yogyakarta: PUSTAKA IFADA. 2013.
Basuki dan Ulum, Miftahul. Pengantar Ilmu
Pendidikan Islam. Yogyakarta: GROUND OFFSET. 2007.
Djumransjah. Filsafat Pendidikan.
Malang: BAYUMEDIA PUBLISHING. 2006.
Harun, Salman. Sistem Pendidikan Islam.
Bandung: PT. AL-MA’ARIF. 1984.
Uhbiyati, Nur dan Ahmadi, Abu. Ilmu
Pendidikan Islam I. Bandung: PUSTAKA SETIA. 1997.
Yunus, Mahmud. Pokok-Pokok Pendidikan dan
Pengajaran. Jakarta: PT. HIDAKARYA AGUNG. 1990.
[1] Djumransjah, Filsafat Pendidikan (Malang:
Bayumedia Publishing, 2006) hal. 101.
[2] Mahmud
Yunus, Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990) hal. 14.
[3] Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I,
(Bandung Pustaka Setia, 1997) hal. 35.
[4] Ibid. Hal. 36.
[5] Salman Harun, Sistem Pendidikan Islam (Bandung:
PT. Al-Ma’arif, 1984) hal. 127-128.
[6] Basuki dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan
Islam (Yogyakarta: Ground Offset, 2007) hal. 46.
[7] Ahmadi, Manajemen Kurikulum: Pendidikan Kecakapan
Hidup (Yogyakarta: Pustaka Ifada, 2013) hal.21.
[8]
Abdul Rahman Haji Abdullah, Pemikiran
Islam di Malaysia (Jakarta: Gema Insani Press, 1937) hal. 294.
[9]
Ibid., hal. 296.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar